Dulunya Mereka yang Berbakat dan Kurang Berprestasi, Kini Menjadi Negara Adidaya di Eropa
Kemenangan Spanyol di Piala Dunia adalah yang kedua setelah kemenangan pertama mereka pada tahun 2010. Spanyol kini telah memenangkan dua Piala Dunia dan tiga Kejuaraan Eropa dalam 18 tahun terakhir. Pada abad sebelumnya, mereka hanya mencatat satu kemenangan di Kejuaraan Eropa pada tahun 1964.
Spanyol kini menjadi negara sepak bola Eropa yang paling sukses secara konsisten jika kita memperhitungkan abad ini, dan hanya Prancis yang mendekati mereka.
Kemenangan Spanyol di Piala Dunia 2026 adalah babak lain dalam kisah sukses mereka.
Kemenangan Spanyol di Piala Dunia: Dari Kisah Perjuangan Hingga Kisah Sukses
Spanyol dikenal sebagai negara yang kurang berprestasi pada abad terakhir.
Mereka mempunyai pemain berkualitas seperti Emilio Butragueno, Julio Salinas, Andoni Zubizarreta dan Raul Gonzalez pada tahun 1980an dan 1990an, namun gagal melewati perempat final di Piala Dunia mana pun.
Kesempatan terdekat mereka untuk memenangkan turnamen besar adalah pada tahun 1984, ketika Prancis asuhan Michel Platini yang brilian mengalahkan mereka di final Kejuaraan Eropa. Spanyol dulunya lolos ke turnamen besar hanya untuk kecewa setelah babak sistem gugur dimulai.
Misalnya, mereka bermain sangat ketat di perempat final Piala Dunia 1994, namun kecemerlangan Roberto Baggio memenangkan pertandingan untuk Italia.
Kemudian pada tahun 2006, tim Spanyol yang sangat bagus lainnya gagal melawan kejeniusan Zinedine Zidane di Piala Dunia 2006. Seringkali menjadi patah hati bagi La Roja sebelum Euro 2008.
ANDA MUNGKIN JUGA SUKA: Poin Penting Dari Piala Dunia FIFA 2026: Pahlawan, Patah Hati, Kontroversi, dan Mengapa EA Sports Mungkin Menjadi Psikis
Spanyol Menang Piala Dunia: Gaya Berbasis Penguasaan Bola Perlahan Mengambil alih Dunia
Gaya penguasaan bola yang terdiri dari banyak umpan-umpan pendek menjadi salah satu gaya yang menonjol bagi tim Spanyol. Bukan suatu kebetulan jika dominasi Spanyol di dunia sepakbola dimulai pada tahun 2008, tahun yang sama ketika Pep Guardiola mengambil alih jabatan manajer FC Barcelona.
Guardiola tetap memimpin Barca hingga 2012, dan Spanyol menaklukkan dunia serta Eropa selama periode tersebut. Pemain seperti Xavi, Andres Iniesta, David Silva, Cesc Fabregas, Xabi Alonso dan Sergio Busquets mungkin merupakan lini tengah terkuat yang pernah dibentuk untuk tim nasional.
Ada jeda sekitar satu dekade setelah itu, karena kecenderungan buruk untuk mencapai prestasi rendah kembali melanda Spanyol. Tersingkirnya lebih awal dari turnamen besar terjadi hingga Kejuaraan Eropa pada tahun 2024, di mana Luis de la Fuente melakukan keajaibannya dengan tim muda.
Pemain muda yang menarik seperti Lamine Yamal, Nico Williams, Pedri, dan Ferran Torres dikombinasikan dengan pemain yang lebih berpengalaman seperti Rodri, Aymeric Laporte dan Unai Simón untuk menciptakan kemenangan Spanyol di Euro 2024 di Jerman.
Kelompok pemain yang sama juga menjadi bagian dari kemenangan Spanyol di Piala Dunia 2026 di Amerika Utara. De la Fuente sekali lagi menunjukkan kepada dunia seperti apa penampilan dan permainan tim sepak bola yang baik.
Spanyol tetap setia pada gaya penguasaan bola mereka, mendominasi penguasaan bola melawan semua lawan mereka di turnamen, termasuk di final yang berat sebelah melawan Argentina. Selain itu, mereka memiliki dua pemain sayap muda menarik yang langsung menyerang pertahanan lawan untuk mempersulit tugas mereka.
Kemenangan Spanyol di Piala Dunia juga merupakan hasil dari pertahanan mereka yang kedap air sehingga hanya kebobolan satu gol di turnamen tersebut dalam delapan pertandingan, dan kemenangan Spanyol di Piala Dunia sekali lagi dihasilkan dari penekanan pada tim dan bukan pada individu mana pun.
Piala Dunia 2026
Kalau biasanya Piala Dunia itu sudah terasa besar, edisi 2026 bakal terasa seperti “festival sepak bola global” versi maksimal. Untuk pertama kalinya, turnamen ini digelar bareng oleh tiga negara sekaligus—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—yang artinya vibes-nya bakal campur aduk antara budaya, stadion, dan gaya dukungan fans yang beda-beda. Bukan cuma soal lokasi, formatnya juga naik level: dari 32 jadi 48 tim. Kebayang nggak, lebih banyak negara ikut, lebih banyak cerita underdog, dan peluang kejutan makin gede. Bisa jadi tim-tim yang biasanya cuma numpang lewat, kali ini malah bikin sejarah. Di sisi lain, jadwal yang makin panjang bikin turnamen ini terasa seperti maraton emosi—dari fase grup yang padat sampai knockout yang makin brutal. Dan karena ini Piala Dunia FIFA 2026, ekspektasinya jelas: gol dramatis, momen ikonik, dan pemain-pemain muda yang tiba-tiba jadi bintang dunia dalam semalam. Intinya, 2026 bukan cuma tentang siapa yang angkat trofi, tapi tentang pengalaman global yang lebih luas—lebih ramai, lebih chaotic, tapi justru itu yang bikin seru.