2 Alasan Setan Merah Kesulitan di Babak Grup
Kampanye Piala Dunia Belgia 2026 telah membuat mereka kesulitan, karena mereka hanya mencatatkan dua poin dari kemungkinan enam poin dari dua pertandingan grup pembukaan mereka.
Belgia bisa dibilang difavoritkan untuk mengamankan posisi teratas di Grup G setelah mereka bermain imbang melawan Iran, Mesir, dan Selandia Baru.
Namun, mereka gagal mencatatkan dominasi di grup dan bisa tersingkir dari kompetisi jika gagal mengamankan poin maksimal di pertandingan terakhirnya.
Pada laga pembukanya, Piala Dunia Belgia 2026 diawali dengan buruk karena ditahan imbang Mesir 1-1 pada 15 Juni.
Pada laga melawan Mesir, Belgia harus bangkit dari ketertinggalan untuk mencetak gol yang menyelamatkan hasil imbang. Namun hasil tersebut mendapat kritik dari suporter yang merasa seharusnya bisa mengamankan poin maksimal.
Enam hari setelah laga pembuka, Belgia gagal mengamankan kemenangan di laga kedua Grup G. Mereka harus bangkit dari ketertinggalan lagi dan menyelamatkan hasil imbang 1-1 dengan Iran, hasil yang membuat mereka tertinggal dari Mesir dan Iran di Grup G. Oleh karena itu, mereka harus mengamankan kemenangan di pertandingan terakhir mereka melawan Selandia Baru untuk lolos ke babak sistem gugur dan menyelamatkan kampanye Belgia di Piala Dunia 2026.
Artikel ini akan menyoroti dan menganalisis dua alasan mengapa Belgia gagal tampil mengesankan di turnamen tersebut.
Piala Dunia Belgia 2026: Tiga Alasan Setan Merah Kesulitan – Kurangnya Presisi Dalam Menyerang
Dalam pertemuan melawan Mesir, Belgia gagal memanfaatkan peluang mereka meski mengendalikan sebagian besar proses serangan.
Mereka mencatatkan 15 percobaan gol, namun hanya tiga dari peluang tersebut yang tepat sasaran, karena Belgia juga gagal mencetak gol langsung, dengan gol ke gawang Mesir berasal dari gol bunuh diri pemain Mesir.
Menjelang pertandingan melawan Iran, Belgia sekali lagi mendominasi proses serangan, tetapi gagal melakukan konversi.
Sebagai tim yang mencatatkan 23 percobaan gol di pertandingan Piala Dunia melawan Iran, Belgia gagal mengkonversi satu pun dari upaya tersebut, sebuah hasil yang menakjubkan mengingat mereka memiliki pemain seperti Romelu Lukaku, Leandro Trossard, dan Kevin De Bruyne di lini depan.
Dengan demikian, dapat digarisbawahi bahwa kurangnya presisi sangat mempengaruhi Belgia di turnamen tersebut.
Lukaku dan penyerang lainnya harus tampil akurat melawan Selandia Baru agar Belgia bisa mengamankan kemenangan yang sangat dibutuhkan untuk melanjutkan kampanye Piala Dunia Belgia 2026.
Belgia mungkin juga harus menjajaki opsi untuk memberikan kesempatan kepada para pemain muda untuk tampil melawan Selandia Baru. Pemain seperti Matias Fernandez-Pardo harus diizinkan menjadi starter di depan Romelu Lukaku dalam serangan.
Sang penyerang mencetak delapan gol dan mencatatkan tujuh assist dalam 41 pertandingan untuk LOSC Lille musim lalu, sementara Lukaku mengalami cedera hampir sepanjang musim 2025/26, karena Fernandez-Pardo mungkin berada dalam kondisi serangan yang lebih baik daripada striker veteran Belgia itu.
ANDA MUNGKIN JUGA SUKA: Mikel Oyarzabal Piala Dunia Spanyol: Striker Bintang La Roja Mencapai Performa Terbaiknya di Babak 32 Besar
Piala Dunia Belgia 2026: Dua Alasan Belgia Berjuang – Kurangnya Sinergi Lini Tengah dan Serangan
Belgia memiliki pemain cerdas seperti Kevin De Bruyne dan Youri Tielemans di lini tengah mereka, dan di lini depan, mereka memiliki Lukaku dan Trossard, di antara pemain lainnya, yang semuanya merupakan penyelesaian akhir yang baik.
Namun, kurangnya sinergi di antara para pemain ini telah mempengaruhi performa menyerang mereka karena mereka belum mencetak gol dan mencatatkan assist di turnamen tersebut, sebuah faktor yang juga menunjukkan bahwa seorang pemimpin telah absen dari starting XI, dan seorang pemain yang dapat mengoordinasikan dan mempengaruhi kinerja pemain lain dalam situasi sulit.
Situasi serupa di atas juga membuat Belgia tersingkir di babak penyisihan grup Piala Dunia FIFA 2022.
Oleh karena itu, para pemain di lini tengah dan penyerang harus bekerja sebagai sebuah tim daripada bekerja secara terpisah untuk mengamankan kemenangan melawan Selandia Baru.
Jika mereka gagal mengalahkan Selandia Baru, Piala Dunia Belgia 2026 mungkin akan dipersingkat, dan eliminasi mungkin akan terjadi.
Namun kemenangan melawan Selandia Baru akan membawa mereka ke jalur yang tepat untuk lolos dari Grup G, dan memperpanjang perjalanan Belgia di Piala Dunia 2026.
Piala Dunia 2026
Kalau biasanya Piala Dunia itu sudah terasa besar, edisi 2026 bakal terasa seperti “festival sepak bola global” versi maksimal. Untuk pertama kalinya, turnamen ini digelar bareng oleh tiga negara sekaligus—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—yang artinya vibes-nya bakal campur aduk antara budaya, stadion, dan gaya dukungan fans yang beda-beda. Bukan cuma soal lokasi, formatnya juga naik level: dari 32 jadi 48 tim. Kebayang nggak, lebih banyak negara ikut, lebih banyak cerita underdog, dan peluang kejutan makin gede. Bisa jadi tim-tim yang biasanya cuma numpang lewat, kali ini malah bikin sejarah. Di sisi lain, jadwal yang makin panjang bikin turnamen ini terasa seperti maraton emosi—dari fase grup yang padat sampai knockout yang makin brutal. Dan karena ini Piala Dunia FIFA 2026, ekspektasinya jelas: gol dramatis, momen ikonik, dan pemain-pemain muda yang tiba-tiba jadi bintang dunia dalam semalam. Intinya, 2026 bukan cuma tentang siapa yang angkat trofi, tapi tentang pengalaman global yang lebih luas—lebih ramai, lebih chaotic, tapi justru itu yang bikin seru.